sebuah catatan perjalanan belajar menjadi manusia

Showing posts with label kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label kontemplasi. Show all posts

Tahun Baru dan Pertanyaan “Kapan Nikah” yang Lama

Di tahun baru 2019 ini, banyak keluarga, kerabat dan teman-teman saya yang menyampaikan doa-doa terutama bagi saya agar cepat menemukan jodoh. Kata mereka, kalau bisa agar saya menikah di tahun ini, terlebih saya perempuan dan usia sudah mendekati kepala 3.

Saya melihat di sekitar dan ya, memang teman-teman seumuran saya rata-rata sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki anak dua.

Jika diri saya saat ini bertemu dengan diri saya saat saya masih remaja, saya juga pasti akan mendoakan hal seperti ini, “semoga cepat dapat jodoh, semoga segera menikah” dimana hal tersebut adalah hal yang baik bagi saya remaja. Namun seiring berjalannya waktu, konsep saya sudah berubah.

Mungkin banyak orang single yang tersinggung saat ditanya “kapan nikah” apalagi dalam suasana tahun baru seperti ini. 



Tahun saja yang baru, status barunya kapan?

Tentang Sepiring Waffle dan Kesendirian

Bersama semua yang berkecamuk di otakmu, kini kau melangkah memasuki tempat itu sendirian.

Mencari tempat duduk tersembunyi, memesan waffle lalu membuka buku tulis. Menulis dan menulis tanpa jeda, menulis apa yang dikatakan oleh alam. Menulis dan membaca kembali, mengangguk-angguk mengerti lalu tersenyum sendiri.

Kau menoleh ke piring yang sudah tersaji.

Bangsat Bangsat Bijak

Hmmmm, akhirnya di blog ini berisi kata umpatan. Kusenang. 🤣🤣🤣 #MoonMaapYaTuhan 😭😭😭

Saya sebenarnya tidak ingin menulis apa-apa, hanya ingin menyimpan saja disini sebagai pengingat, nasihat-nasihat dari @radenrauf yang di akhir kalimatnya sering berkata “bangsat” namun petuahnya bijak.


isi hatiquew

Tentang Mengagungkan Sebuah Pilihan

Belakangan ini, banyak perang twit (twitwar) yang terjadi di twitter. Dari berita altet kita yang banyak “dipuji” hingga cuitan seorang penulis tentang single dan berpasangan yang memicu perang pendapat.

Adalah seorang penulis menuliskan tentang alasannya memilih kehidupan single dengan membandingkannya dengan kehidupan berpasangan (berpacaran) yang dirasanya lebih merepotkan.

Terjadi perang pendapat antara kubu single dan berpasangan. Sebuah perang yang saya rasa tidak perlu karena apakah sesuatu yang baik bagi pribadi tertentu, akan baik bagi semua orang?


Tentang Seorang Bocah Perempuan

Saya ingin bercerita tentang seorang bocah perempuan yang sangat berharga bagi saya. Dia adalah kebahagiaan saya, dia juga adalah kesedihan saya, dia adalah seorang yang selalu membuat saya ingin berusaha dan berusaha, walaupun ia tidak pernah menuntut apa-apa.


Apakah Kamu Bahagia Bagian 2

Everyone you meet always ask if you have a career, are married or own a house as if life was some kind of grocery list. But no one ever asks if you are happy - Heath Ledger

Are you happy?

Baca sebelumnya : Apakah Kamu Bahagia?

my happiness

Siapa yang Tahu Tentang Dirimu?

 Siapa yang tahu tentang dirimu? 

 

Hanya dirimu sendiri. 

 

pic from : pexels

Apakah Kamu Bahagia?


Apakah kamu bahagia?
Pertanyaan itu aku rasa sangat penting, lebih penting dari segala pertanyaan yang ada di dunia.  

Hal-hal yang kita miliki, orang-orang yang kita temui, dan semua keadaan kita saat ini akan terasa tidak berguna jika kita tidak bahagia. Namun seperti apakah kebahagiaan itu?

Pandanganku tentang kebahagiaan sama seperti sebuah selera humor.
Pada lelucon yang sama, tidak semua dari kita tertawa

Teruslah Berpura-Pura Bijak Hingga Kau Lupa Kau sedang Berpura-Pura

Kita bertemu lagi wahai diriku sendiri.

"Berpura-Pura Bijak" adalah judul yang menarik bukan?

Bukan, aku bukan sedang mengajarimu untuk munafik, tidak sama sekali. Seperti yang kau tahu, bahwa pikiran kita adalah singa-singa yang kelaparan. Yang mana yang sering diberikan makan, yang itu akan semakin membesar. Yang mana yang sering diberikan makan, yang itu akan mengaum lebih kencang. Yang mana yang sering diberikan makan, yang itu akan mampu menjadi raja diraja.

Pikiran yang manakah yang akan kau fokuskan untuk menjadi pemenang?


Tentang Orang-Orang yang Membawa “Sampah” Kemana-Mana



Ketika sampah di rumah sudah penuh, maka kami harus membawanya ke tempat pembuangan sampah besar yang cukup jauh dari rumah. Di perjalanan, bau sampah itu sangat menyiksa walau sudah ditutup rapat. Belum lagi karena kemalasan saya yang membuat tumpukan sampah sangat banyak dan berat, sehingga keseimbangan motor yang saya gunakan untuk mengangkutnya menjadi terganggu.

full

Kita Tidak Bisa Terus Tertawa Pada Lelucon yang Sama


Seorang komedian bercerita tentang lelucon yang lucu dan semua penonton di hadapannya tertawa terbahak-bahak. Saking lucunya ada yang tertawa hingga mengeluarkan air mata dan gerakan-gerakan aneh yang hanya mereka yang mengerti. 

Setelah tawa mereda, komedian kembali menceritakan lelucon yang sama, penonton kembali terpingkal-pingkal namun sudah ada beberapa yang diam saja tiada ikut tertawa. Kemudian tanpa disangka, komedian memberikan lelucon yang sama lagi. Kali ini lebih sedikit penonton yang tertawa dan penonton yang diam saja sudah merasa aneh. 

Komedian terus mengulang lelucon tersebut sampai akhirnya tiada satu penonton pun yang tertawa. Kemudian dia berkata,"kita tidak bisa tertawa terus pada lelucon yang sama tapi mengapa kita menangis terus untuk alasan yang sama?"

Jangan Menjadi Orang Lain


Teruntuk diriku yang senang mengamati,

Jangan menjadi orang lain. Jangan. Karena orang lainpun berusaha keras menjadi orang lain yang berarti mereka tak cukup mencintai dirinya sendiri. Untuk apa menjadi orang yang seperti itu?

Melihat seorang yang sukses ingin seperti dia, melihat wanita yang cantik ingin seperti dia, melihat anak yang berbakti ingin seperti dia. Melihat hal ini ingin menjadi ini, melihat hal itu ingin menjadi itu. Kau terlalu memaksakan dirimu menjadi sempurna namun ada satu yang kau lupa bahwa kau juga istimewa.

Jika Aku Tahu Umurku Tak Lama Lagi

Jika aku tahu umurku tak lama lagi, maka aku akan lebih banyak menulis. Aku tidak ingin semua pemikiran, ide dan gagasanku ikut terbenam bersama raga tanpa ada yang mengetahuinya. Aku ingin menjadi kenangan dan memberi manfaat bagi orang-orang termasuk mereka yang tak ku kenal. Aku akan menulis tentang segala hal, karena hanya hal itulah yang bisa kulakukan dengan maksimal. Aku akan menulis tentang keluarga, tentang cinta, tentang perenungan-perenungan di dalam jiwa. Aku akan menuliskan terimakasih yang tak terhingga pada orang-orang di sekitar yang berjasa, termasuk pada mereka yang membuatku menderita karena mereka mengajarkanku segalanya.

Belum Tentu

Belum tentu orang yang kau irikan itu bahagia sebahagia dirimu. Siapatahu ia hanya lebih pintar menyembunyikan kesedihannya. 

Belum tentu orang yang kasar padamu adalah orang yang jahat. Siapatahu ia hanya ingin penghargaan yang tak pernah bisa didapatkannya jika ia berperilaku baik. 

Belum tentu ia yang kaya selalu berfoya-foya. Siapatahu sedekahnya banyak dan tak diumbar di luar sana. Kebaikannya banyak tapi tidak terpublikasikan media. 

Bekerja untuk Hidup

Kita tidak pernah membayar atau membeli sesuatu dengan uang. Uang itu hanyalah sebuah benda. Kertas. Apa yang membuatnya bernilai adalah apa yang kita berikan untuk mendapatkan uang tersebut. Ada yang membayarnya dengan keringat, pemikiran, waktu, ada pula yang membayarnya dengan kebahagiaan (jika ia menyukai pekerjaannya).

Untuk orang seperti saya yang bekerja kantoran dari pagi hingga sore, seringkali lembur lalu pulang dengan rasa letih, kemudian mengulanginya esok hari dan selamanya, --hingga saya lupa saya manusia atau hanya boneka--, saya merasa membeli/membayar sesuatu bukan dengan uang. Tapi dengan waktu yang saya habiskan duduk menatap monitor dan mengerjakan sederet pekerjaaan yang takkan habis dan berulang. Untuk kemudian pulang dengan rasa letih hingga lupa sebenarnya hidup untuk bekerja ataukah bekerja untuk hidup?


Tidak Ada yang Gratis

Dulu saat masih anak-anak ingin cepat dewasa agar bisa membuat keputusan sendiri, setelah dewasa malah ingin kembali menjadi anak-anak karena tidak banyak yang harus dipikirkan. 

Saat belum menikah ingin cepat menikah agar bisa bersama selamanya, setelah menikah malah ingin kembali lajang agar waktu untuk diri sendiri lebih banyak. 

Waktu jadi pegawai ingin jadi bos agar bisa duduk tenang leha-leha, setelah jadi bos lebih baik jadi pegawai saja kerja fisik dan bertemu klien namun tidak pusing memikirkan konsep agar tak banyak komplain. 


Luka Fisik Vs Luka Bathin

Jika seseorang terjatuh saat berjalan dan mengalami luka pada bagian tubuhnya, maka akan banyak orang terdekat yang mengasihinya datang menolong. Lain halnya jika ia mengalami suatu masalah lalu batinnya jatuh dan terluka. Orang terdekatnya bisa menganggapnya hal yang biasa saja dan akan sembuh dengan sendirinya. Nasihat paling sering diberikan adalah "sabar... Sabar" lalu mereka berlalu dengan perlahan. Haruskah ia mematahkan dua tangannya dulu untuk mendapat kepedulian?

Luka di batin lebih berbahaya dari luka fisik. Jika kita terjatuh secara fisik sudah jelas sakitnya dan kemungkinan bisa disembuhkan atau tidaknya, maka jika batin kita yang luka selain sulit menanganinya bisa mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bahkan kematian yang tiada terduga. 

Banyak kita dengar tindakan bunuh diri dipicu oleh hal-hal yang sepele. Diejek, diputus pacar, tidak dibelikan sesuatu, dan banyak hal remeh lainnya. Sebenarnya tidak sedangkal itu latar belakangnya. Jika kita runtut lebih jauh dan mencari akar masalahnya, hal-hal tersebut hanyalah pemicu yang merupakan di titik klimaks dari pertahanan mental sebuah individu. Tidak usah mencibir, mengatakan goblok, bodoh, tidak bersyukur dan sebagainya pada pelaku, karena siapatahu kita merupakan salah satu yang berperilaku mirip dengan orang-orang yang ikut andil di dalam melukai hati orang itu. 

Kita menciptakan sebuah pergaulan yang biasa menggunakan kekurangan fisik sebagai candaan. Kita juga sering mengungkapkan pernyataan yang tanpa sadar membanding-bandingkan. Pemberian nama alias berdalih keakraban, Gossip, sindiran, ejekan yang kita lontarkan bertubi-tubi dengan bungkus guyonan. 

Nyamankah ia yang kita perlakukan seperti itu? Belum lagi pengabaian kita yang total karena kita tak punya banyak waktu untuk orang tersebut karena kesibukan kita dan hal lainnya yang lebih kita prioritaskan. 

Sebuah pengabaian pada luka batin adalah hal yang berbahaya. Jika kita tak mengubah bagaimana perilaku kita akan semakin banyak korban lainnya. Luka fisik mungkin akan berbekas, tapi takkan terasa sakit lagi. Luka batin muncul setiap kali teringat dan sakitnya bahkan bisa meningkat kadarnya jika tak tertangani segera. Luka fisik jarang yang menimbulkan luka batin, namun luka batin sering bermanifestasi ke fisik. Itulah mengapa ada penyakit-peyakit psikosomatis dalam dunia kesehatan. 


Kita berperilaku mirip seperti orang tua yang lebih khawatir anaknya tidak makan daripada anaknya tidak bermain. Kita akan marah-marah jika si anak tidak makan tapi tak melakukan apapun ketika ia mengeluh bosan dan murung. Secara fisik anak-anak akan bertahan tidak makan, namun secara mental ketika anak sudah tak ingin lagi bermain dan tak ceria seperti biasanya, hal yang menjadi pemicunya akan terkenang hingga dewasa. Berapa banyak kesedihan masa kecil kita masih teringat hingga kini? Berapa besar pengaruh kata-kata sepele seseorang di masa lalu mengganggu pikiran kita hingga kini? 

Mari Berpikir yang baik, berkata yang baik, berbuat yang baik pada semua orang. Walaupun orang lain terlihat baik-baik saja, kita tak pernah tahu pertarungan batin apa yang ia hadapi sebenarnya. Dan jangan sampai kita menjadi salah satu penoreh luka batin yang akan ia ingat selamanya. Jadilah penyembuh, jadilah perawat. Bebaskan batinnya namun sebelum itu, batin kita perlu menjadi bebas terlebih dahulu. 

Mari Memotret Kehidupan

Kita membawa 2 buah kamera kemanapun kita pergi. Kamera yang memiliki resolusi dan fitur yang berbeda-beda tergantung dari si empunya. Kamera yang bisa berkembang kemampuannya menjadi tak terbatas walaupun ukurannya tak berubah. Dua kamera tersebut disebut dengan mata. Ia bisa melihat, ia bisa memotret, bahkan ia bisa langsung mencetak foto dan meyimpannya. 

Hasil foto yang tersimpan sesuai dengan aliran dari sang fotografer. Ada dominan menyukai kebahagiaan, ada pula yang memotret kesengsaraan. Namun foto adalah foto. Kejadian adalah kejadian, yang bisa menimbulkan banyak penafsiran. Hal yang membuat berbeda adalah caption yang ditambahkan. 

Kasihi Musuhmu


Dari manakah kita belajar untuk sabar selain dari orang-orang yang hadir dan menyulitkan kehidupan kita? 

Dari manakah kita mengerti betapa pentingnya menjaga kepercayaan selain dari orang-orang yang mengkhianati kita? 

Dari manakah kita tahu bahwa sebuah kata-kata bisa menyakitkan hati kecuali kita mengalaminya sendiri? 

Dari manakah kita sadar bahwa terimakasih dan cinta lebih baik diungkapkan kecuali kita pernah menyesal tak melakukannya? 

Dari manakah pelajaran bahwa marah meninggalkan luka selain dari merasakan luka itu sendiri? 

Kadang kita merasa kesal mengapa sepertinya hidup orang lain diciptakan untuk memberatkan kehidupan kita. Kadang kita merasa sebaiknya tak pernah mengenal seseorang atau lebih ekstremnya lagi, kita berharap ia tak pernah dilahirkan! Jika hal tersebut terjadi, siapakah yang akan mengajarkan kita kebijaksanaan? Mampukah kita hanya belajar teori tanpa aplikasi? 

Kita berkoar-koar harus mengasihi sesama, namun ketika kasih tak mendapat balasan yang sama, caci maki yang berkumandang dalam diri. Kita berbondong-bondong pergi ke rumah ibadah dan memamerkan apa yang bisa dipersembahkan, tapi ketika dicoba sedemikian rupa, malah berdoa agar orang lain cepat mendapat balasannya. Inikah kasih yang diajarkan Yang Maha itu? 

Sebaiknya kita kembali belajar pada  anak-anak. Begitu seringnya mereka bermusuhan, namun hanya sekejap mata sudah saling berpelukan. Kita sebagai orang dewasa yang dengan jumawa mengajarkan kasih dan bagaimana seharusnya berperilaku pada anak-anak kita malah memberikan tauladan menebar kebencian bagi orang-orang menyakiti atau berpemikiran tak sejalan.

Lalu, apakah artinya kita harus mentoleransi perbuatannya? Ketika ketidakadilan itu menghampiri kita, perilaku buruk diberikan pada kita, mari membela diri seperlunya dan mengambil tindakan serasionalnya. Tapi harus diingat pula, tindakan menyakitkan biasanya timbul dari hati yang tersakiti pula. Baik itu di masa sekarang, maupun di masa lalu. Ia yang kita cap jahat, bisajadi tak sedemikian jahat seperti yang ada di pikiran kita. Ia hanya memberi apa yang bisa ia beri, karena ia tak memiliki apapun selain kejahatan, maka ia berikan itu semuanya. 

Sesuatu... Jika memang harus terjadi menurut-Nya, memang akan terjadi pada kita tanpa kita bisa mengelaknya. Namun ketika semua sudah benar-benar berakhir dan berlalu, kita baru akan menyadari bahwa orang yang kita beri label buruk juga turut andil dalam tingkatan kesadaran diri. 

Belajar Memaafkan

Waktu tidak mengubah rasa sakit itu, namun waktu bisa memberikan jeda dan beberapa alasan tambahan bahwa kita tidak seharusnya membenci seseorang. 
Benci, (seperti halnya cinta) juga penting keberadaannya. Namun bedanya ketika kita memupuk benci dalam diri kita, sama dengan menghancurkan diri kita sendiri. Kita menderita, kita tersakiti berkali-kali untuk hal yang sama yang sebenarnya bisa saja kita lepaskan.


Custom Post Signature

Custom Post  Signature