sebuah catatan perjalanan belajar menjadi manusia

Kisah Supir Taksi Online Bagian I : Hurt People Hurt People

Aplikasi taksi online menunjukkan bahwa sistem sedang mencari supir. Tak lama berselang, muncullah sebuah foto, nama dan nomor kendaraan lengkap dengan 5 bintang berwarna kuning di bagian bawah. 

"Yes," kata saya yang saat itu memang sedang terburu-buru ke daerah Kuta

"Rumah nomor berapa Mbak?" sebuah pesan singkat masuk di aplikasi

"25x. Tapi tunggu di ujung gang ya, Pak soalnya mobil susah muter," balasku


Atheist yang Beriman



Iman, keyakinan, kepercayaan dan agama adalah hal yang absurd dan takkan pernah habis untuk diperdebatkan.

Seseorang pernah bertanya dua pertanyaan penting yang membuat saya membuat tulisan ini.

Ia bertanya kepada saya,
Bagaimana jika kebenaran yang sebenarnya adalah Tuhan tidak pernah ada?
Bagaimana jika semua kitab suci dan cerita agamamu adalah fiksi belaka?

Saat pertama kali mendapatkan pertanyaan tersebut, dada saya terasa sesak, tenggorokan saya tercekat dan alis saya otomatis berkerut. Serta pikiran-pikiran saya berbicara sendiri tanpa henti, tanpa terkendali.

Kita Tidak Bisa Terus Tertawa Pada Lelucon yang Sama


Seorang komedian bercerita tentang lelucon yang lucu dan semua penonton di hadapannya tertawa terbahak-bahak. Saking lucunya ada yang tertawa hingga mengeluarkan air mata dan gerakan-gerakan aneh yang hanya mereka yang mengerti. 

Setelah tawa mereda, komedian kembali menceritakan lelucon yang sama, penonton kembali terpingkal-pingkal namun sudah ada beberapa yang diam saja tiada ikut tertawa. Kemudian tanpa disangka, komedian memberikan lelucon yang sama lagi. Kali ini lebih sedikit penonton yang tertawa dan penonton yang diam saja sudah merasa aneh. 

Komedian terus mengulang lelucon tersebut sampai akhirnya tiada satu penonton pun yang tertawa. Kemudian dia berkata,"kita tidak bisa tertawa terus pada lelucon yang sama tapi mengapa kita menangis terus untuk alasan yang sama?"

Menulis dan Tidak Dibayar, Untuk Apa?


Sering saya mendengar saran, agar saya mengirimkan karya saya lagi ke koran dan tidak hanya menulis di blog ini dimana tidak ada yang membayar. Ya, mungkin saya akan mulai membuat cerpen atau mencoba membuat puisi dan mengirimkannya lagi, tapi saya juga akan tetap menulis di blog ini. Lho kan tidak dibayar, untuk apa?

Untuk apa ya, saya juga bingung kalau ditanya untuk apa. Saya membuat blog ini dengan mengorbankan waktu saya yang berharga untuk menulis dan hunting foto yang sesuai. Selain itu, saya mengorbankan kuota internet, mengorbankan dana untuk design, domain, maintenance dan lain-lain. Tapi apa yang saya dapatkan? Jika dalam bentuk materi memang belum ada namun jika hal lain ya, sudah banyak sekali.

salah satunya ini. Dari seseorang yang tidak ingin disebut identitasnya.
Bukan, ini bukan tentang menambah keeksisan diri, mengikuti trend atau yang lainnya. Saat ini saya fokus ke pengembangan diri saya sendiri dan blog ini adalah sarana bagi saya untuk bertumbuh sekaligus berbagi.

Kisah Dua Ekor Anjing dan Pemiliknya yang Tidak Suka Anjing

Saya adalah orang yang paling anti dengan binatang peliharaan, termasuk anjing. Kalau mereka bisa hidup bebas di luar sana mengapa mesti dipelihara?

Namun, saya tidak memungkiri semasih kecil dulu sempat terpikirkan oleh saya, ingin memiliki anjing kecil yang lucu yang bulunya seperti alas leyeh-leyeh, bulu-bulu sintesis lembut yang nyaman dan empuk. Namun niat itu hanya sebuah niat mengingat bahwa sebaiknya saya membeli boneka saja yang berbulu lembut yang tidak perlu makan serta BAK dan BAB, dan hal itu sangat disetujui oleh Ibu saya, "Nanti kamu tidak bisa merawatnya"

Namun, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, dimana doa-doa saya selalu dikabulkan maka terjadi suatu hal yang tidak diduga-duga. Saya punya anjing . . .

D U A !

yes, this dogs deserve a blogpost

Kisah Seorang Anak, Pantai dan Lambang Swastika

Seorang anak duduk di dalam mobil Kijang keluaran tahun 1990 berdesakan dengan anak-anak lainnya. Di dalam pikirannya sudah terbayang hamparan pasir dan laut yang luas tanpa batas. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya, nafasnya lebih cepat namun tidak memburu. Perjalanan yang hanya 15 menit pun terasa terlalu lama untuk dinikmatinya dalam diamnya yang biasa.

Jalan yang berkelok dan berbatu menimbulkan goncangan-goncangan kecil di dalam mobil. Anak-anak lain yang rata-rata lebih tua dari dirinya terlihat asyik bercengkrama satu sama lain. Beberapa ada yang bernyanyi, oh nyanyian pujian kepada Tuhan!

Saat Pesan Kedamaian Terasa Begitu Membosankan


KEDAMAIAN YANG TIDAK POPULER 

Buku-buku kedamaian itu tergeletak begitu saja di rak-rak biasa, jarang ditempatkan di tempat khusus best seller. Kelas-kelas kedamaian itu sepi, tidak seperti kelas dengan tema "bagaimana meningkatkan pendapatan atau mencapai kebebasan finansial".

Tulisan tentang hal-hal damai minim peminat, berlumut dan hanya sesekali dibagikan. Grup-grup linimasa yang mengajarkan pesan kedamaian mengalir tenang, sementara grup yang suka berdebat, anggotanya mencapai ribuan dengan diskusi aktif dan saling cerca.

Anehnya yang diperdebatkan adalah agama yang katanya membawa kedamaian.

Orang-orang berdebat tentang bagaimana jalan menuju kedamaian. Sungguh ironi.
Kedamaian, bagi sebagian orang sangatlah membosankan.

Kedamaian, sama tidak populernya dengan kesunyian. Maka ketika ada orang yang menyukai kesendirian bahkan hingga akhir hidupnya tanpa kawan dan tidak menikah, akan dikasihani oleh sekitar. Mereka lupa, sepi bukan berarti kesepian. 

Custom Post Signature

Custom Post  Signature