sebuah catatan perjalanan belajar menjadi manusia

Saat Pesan Kedamaian Terasa Begitu Membosankan


KEDAMAIAN YANG TIDAK POPULER 

Buku-buku kedamaian itu tergeletak begitu saja di rak-rak biasa, jarang ditempatkan di tempat khusus best seller. Kelas-kelas kedamaian itu sepi, tidak seperti kelas dengan tema "bagaimana meningkatkan pendapatan atau mencapai kebebasan finansial".

Tulisan tentang hal-hal damai minim peminat, berlumut dan hanya sesekali dibagikan. Grup-grup linimasa yang mengajarkan pesan kedamaian mengalir tenang, sementara grup yang suka berdebat, anggotanya mencapai ribuan dengan diskusi aktif dan saling cerca.

Anehnya yang diperdebatkan adalah agama yang katanya membawa kedamaian.

Orang-orang berdebat tentang bagaimana jalan menuju kedamaian. Sungguh ironi.
Kedamaian, bagi sebagian orang sangatlah membosankan.

Kedamaian, sama tidak populernya dengan kesunyian. Maka ketika ada orang yang menyukai kesendirian bahkan hingga akhir hidupnya tanpa kawan dan tidak menikah, akan dikasihani oleh sekitar. Mereka lupa, sepi bukan berarti kesepian. 

Perempuan yang Memiliki Saudara Perempuan, Pasti Mengerti Hal-Hal Ini

Memiliki seorang saudara memang sebuah anugerah tersendiri. Banyak hal yang bisa dilakukan bersama, walaupun tak jarang pula memicu pertengkaran kecil yang selalu berdamai pada akhirnya. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama sejak dilahirkan membuat sepasang saudara sering memiliki pengalaman dan perasaan yang saling mengerti satu sama lain.

Dilansir dari www.nationalgeographic.co.id, ada sebuah studi yang dilaksanakan di tahun 2014 yang menemukan bahwa:
orang yang memiliki saudara laki-laki atau perempuan cenderung lebih empati, peduli dan dermawan dibandingkan anak tunggal. Hal ini disebabkan sejak kecil, mereka telah belajar berbagi dan berkompromi
Penelitian yang mengkhusus tentang saudara perempuan ternyata juga ada, seperti yang diberitakan oleh www.bbc.co.uk dimana para peneliti menanyai 571 orang berusia antara 17 dan 25 tahun mengenai kehidupan mereka dan menyimpulkan:
mereka yang tumbuh dengan saudara perempuan lebih besar kemungkinan menjadi bahagia dan seimbang.
Benarkah hal-hal tersebut di atas? Berikut saya ceritakan pengalaman saya memiliki saudara perempuan yang bernama Adek, sekaligus sebagai ungkapan terima kasih kepadanya yang sudah menjadi teman setia di dalam segala hal, sejak dulu hingga sekarang.

BTW foto di kiri diambil tanpa unsur kesengajaan. Amazing! Gayanya masih sama sejak belasan tahun yang lalu yaitu gaya kepala gatel

Here you go, Adek you are my…

Tolong Berhenti "Gek Gek-in" Saya di Jalan

"Gek, Gek... Hai," kata seorang laki-laki
"Cewek...cewek.... Suit-suit"  kata temannya yang lain sambil bersiul lalu tertawa genit
Saya melihat mereka berdua beberapa detik lalu melanjutkan perjalanan.
Dalam hati saya berkata, "Saya harus menuliskan ini di blog"

Mengenang Mantan sebagai Pahlawan


Disclosure : Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat saya yang sedang dalam proses tawar menawar mantan menjadi pahlawan.  

Di suatu pagi yang dingin sambil menunggu matahari terbit, kami berdua terdiam. Dia ingin mendekat namun diri ini menjauh. Beberapa saat kemudian saya meninggalkan dia sendirian menatap matahari terbit seperti yang ia inginkan. Sesampainya saya di rumah, ia mengirim pesan, “sebaiknya kita hanya berteman”. Lalu dia sedikit menambahkan di pesan lainnya, “suatu hari nanti, kirimkanlah undangan pernikahan”.

Kami berdua sungguh tahu hubungan ini tidak akan berjalan seperti yang diharapkan. Saya tahu, sedih itu pasti datang, hanya saja bercampur sebuah kelegaan daripada dipaksakan. Kami berdua orang yang baik, namun tidak bisa dipersatukan. Saya tahu, hatinya bukan untuk saya seorang. Saya tahu, hati saya juga tidak mampu untuk melanjutkan. Lebay? Iya. Ini kisah kasih SMA yang aneh, absurd dan termehek-mehek. Dia penyemangat saya ketika Ujian Nasional, dia memberikan pertimbangan jurusan kuliah hingga mengirimkan buku profil berbagai universitas, dia kekasih yang tak banyak dikenal, dia kisah yang manis namun hanya untuk dikenang tidak untuk terulang.        

Beberapa tahun setelahnya, ternyata saya bertemu kisah-kisah lainnya yang kurang lebih berakhir sama. Bahkan ada yang lebih lebay dan drama, hingga malaikat pelindung saya berekspresi seperti ini

Hahaha.. Sorry Mum,

Ada sebuah kata bijak yang mengungkapkan,
Jika hal itu bukanlah masalah 5 tahun mendatang, jangan menghabiskan waktu lebih dari 5 menit untuk memikirkannya.

Kisah Lantai yang Kotor dan Kegagalan Seorang Menantu



Saat itu saya masih kuliah dan praktek di kabupaten lain yang mengharuskan saya untuk tinggal di sana selama satu bulan. Biasanya ketika mendapat tempat praktek di kabupaten lain, saya akan mencari kamar kost yang berupa kamar terpisah dengan tuan rumah dan tinggal bertetangga dengan teman-teman yang kebetulan mendapat tempat praktek disana. Namun karena beberapa hal, pertama kalinya saya harus tinggal bersama dengan tuan rumah dengan cara mengontrak satu kamarnya sehingga mau tidak mau saya juga ikut melihat apa-apa saja yang terjadi dalam keseharian keluarga tersebut.

Kisah yang Tersisa di Panti Werda

Sebuah tanda pemberitahuan muncul di layar telepon pintar saya, sebuah jawaban pesan dari adik perempuan yang kini sedang menjalani praktek studi ilmu keperawatan.

Adek mangkin praktek di Panti Werda” 1) tulisnya. 

Saya teringat beberapa tahun yang lalu saya juga mengalami masa-masa itu. Masa praktek mahasiswa perawat yang berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dari satu puskesmas ke puskesmas lain, dari satu banjar2) ke banjar lain, ke rumah-rumah warga serta ke Rumah Sakit Jiwa dan Panti Werda. Lupa-lupa ingat, saya sampaikan pada adik saya untuk mencari pasien saya yang dulu dengan mengandalkan ciri-ciri tempat tinggalnya. Saya hanya ingin tahu bagaimana kabar Odah3) itu sekarang, apakah masih sehat? Semoga saja.

Selebaran Intoleransi Masa Kini

Saat itu di suatu hari di pukul 06.00, saya kecil yang baru bangun tidur langsung menghidupkan televisi. Saya berharap ada acara anak-anak, namun malah sebuah ceramah salah satu agama yang sedang tayang. Saya mendengarkannya dan ibu yang saat itu sudah lebih dahulu bangun ikut menonton dan berkata,
semua agama sama saja, mengajarkan kebaikan  

Lalu kami menonton ceramah itu berdua.

Saat itu di hari yang lain di pukul 14.00, saya sudah pulang sekolah dan sudah menyantap makan siang. Televisi menjadi satu-satunya hiburan dan ternyata sedang tayang serial televisi bertema keagamaan. Tanpa berkata-kata, ibu saya ikut menontonnya. Sejak saat itu serial itu menjadi tontonan wajib kami walaupun ada beberapa bagian yang tidak kami mengerti karena bukan ritual agama sendiri.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature